
Preemptive Strike lagi ?
Suratkabar New York Times memberitakan hari Minggu bahwa serangan udara Israel di Syria bulan lalu adalah terhadap reaktor nuklir yang setengah dibangun. Berita itu yang mengutip pejabat-pejabat Amerika dan asing yang tidak disebut namanya mengatakan reaktor itu mirip yang dipergunakan Korea Utara untuk menyimpan bahan bakar nuklir.
Pejabat-pejabat Amerika mengatakan lokasi reaktor itu dikenali lewat gambar-gambar satelit awal tahun ini. Badan Tenaga Atom Internasional mengatakan pihaknya sedang menghubungi pemerintah Syria mengenai kebenaran berita New York Times tersebut.
Akibat Peristiwa WMD Iraq, Kredibilitas Intelijen AS Disangsikan
Agaknya akibat terbongkarnya kasus manipulasi hasil laporan intelijen mengenai tentang adanya laporan mengenai pembuatan Weapon of Mass Destruction (WMD) di iraq yang berujung pada operasi Enduring Freedom pada tahun 2003 lalu membuat banyak pihak yang menyangsikan laporan dan kredibilitas intelijen Amerika serikat.
Strategi Perang Melawan Teror Rusak Akibat Serangan Ke Iraq
Karena pada dasarnya dukungan yang begitu melimpah bagi Amerika Serikat untuk memulai perang melawan terorisme yang dimulai di afghanistan seolah menjadi menguap begitu saja setelah Amerika Serikat memulai perang untuk menginvasi Iraq. Karena nampaknya momentum dukungan internasional untuk memerangi rezim Teroris Taliban justru salah dimanfaatkan Amerika Serikat , dengan melakuan serangan ke Iraq tanpa mendapat persetujuan PBB plus tanpa disertai bukti yang kuat dari IAEA serta hanya mengandalkan laporan intelijen yang begitu subjektif semakin menyudutkan posisi AS dalam politik Internasional.
Tidak saja membuat Iraq menjadi sebuah negara “gagal” tetapi juga menyulut konflik sekterian di kalangan warga iraq. Parahnya Iraq sendiri kini menjadi ladang subur buat pelarian kriminal baik dari Iran, Suriah dan menjadi cagar alam dan tempat berkembang biak yang baik untuk kelompok teroris seperti Alqaeda untuk menyebar luaskan doktrin mereka kepada komunitas yang sudah terlanjur sakit hati dan patah arang akibat perang tersebut. Bahkan dikalangan publik Amerika sendiri perang di Iraq justru disebut sebut sebagai War for Oil. Karena jika di Afghanistan alasan peperangan memiliki alasan yang cukup jelas seperti memerang rezim Teroris Taliban yang telah terbukti melakukan pelanggaran HAM berat, dan serangan terebut mendapat dukungan konstitusi dari PBB maupun dukungan penuh dunia Internasional. Berbeda halnya dengan serangan Amerika atas Iraq dimana pada dasarnya, penguasaan atas minyak bumilah prioritas utamanya.
Manuver Politik Republican ? Lagi ?
Apa yang dilakukan gedung putih saat ini sepertinya lebih mengarah kepada manuver politik dalam negri. Sepert yang dilakukan pada tahun 2003, disaat George W Bush harus menghadapi Senator John Kerry, ia memilih melakukan invasi ke Iraq dalam istilah “diplomasi perang” mau tidak mau membuat pemerintah amerika serikat untuk melanjutkan perang tersebut. Dalam arti kata, jika dalam kampanyenya John Kerry mengatakan ia akan menarik pasukan AS di Iraq, dapat dengan mudah dibalikan oleh gedung putih dengan alasan bahwa : misi di AS belum selesai, pengorbanan tentara AS menjadi sia sia ataupun atas nama warga Iraq keadaan di sana belum stabil maka keberadaan pasukan AS masih dibutuhkan. Sehingga publik dihadapkan pada situasi dimana terdapat “urusan yang belum terselesaikan” sehingga alasan meneruskan okupasi di Iraq menjadi senjata pamungkas bagi kelompok Republikan.
Situasi seperti itu nampaknya akan kembali dilakukan dan dimanfaatkan oleh gedung putih demi mendukung John McCain. Tetapi setelah kegagalan mencari alasan untuk menyerang Iran agaknya hal yang sama kini dialihkan kepada Syria. Tetapi menilik peristiwa perang Iraq lalu yang telah memakan korban “Lengsernya” Tony Blair dan John Howard nampaknya kini alasan tersebut sudah menjadi “klise” bahkan hanya menjadi guyonan semata, yang tidak memiliki kekuatan diplomasi seperti dahulu.
Syria Berniat Membangun Reaktor Nuklir ? Bah !
Serangan israel terhadap sebuah gedung setengah jadi yang berada dekat dengan perbatasan Israel disinyalir merupakan serangan preemptive, tetapi sepertinya ini memang sebuah skenario konspirasi yang terbilang sangat janggal, disamping seolah pemerintah syria tidak beregeming setelah batas kedaulatan negaranya dilanggar, hampir tidak mungkin sebuah situs penting didirikan di sebuah lokasi yang terlalu dekat dengan perbatasan kedua wilayah negara tanpa penjagaan sama sekali.
Hal ini bisa dibilang amat janggal terutama jika dibandingkan penjagaan reaktor Nuklir milik Iran - Busher, dimana hanya untuk melakukan penjagaan terhadap reaktor tersebut Iran rela menyiagakan 20 pesawat tempur F-14A Tomcat dari total 28 pesawat yang mereka miliki hanya demi menjaga keamanan reaktor tersebut. Belum lagi belasan situs rudal anti pesawat Hawk serta puluhan senapan mesin penangkis serangan udara juga ditempatkan untuk menjaga reaktor tersebut.
Melihat dari pengalaman dari Iran yang mengatakan membangun reaktor nuklir untuk tujuan damai serta mengizinkan IAEA melakukan inspeksi - meski hanya tuhan yang tau apakah iran membangun senjata nuklir atau tidak) tetapi yang jelas nampaknya Syria tidak akan gegabah melakukan tindakan serupa, terlebih di masa presiden Bashar As Saad pembangunan ekonomi lebih dikedepankan dibanding sesuatu yang bersifat profokatif.
Mahmoud Ahmadinejad Terlalu Vokal - Mencari Simpati atau Hanya Tong Kosong ?
Berbeda dengan pemimpin Iran sebelumnya, nampaknya Mahmoud Ahmadinejad terlalu vokal dalam menyuarakan pendapatnya yang tergolong provokatif. Meski bisa dikatakan vokalnya Mahmoud Ahmadinejad bisa digunakan sebagai alat propaganda politik luar negri tetapi bila statement tersebut terus menerus dikumandangkan tanpa henti bisa jadi publik internasional justru akan menganggap Mahmoud Ahmadinejad hanya seorang yang mencari simpati dan berbicara layaknya tong kosong nyaring bunyinya.
Karena bisa dikatakan dan bahkan dipastikan, bahwa posisi geografis dan geopolitik Iran lebih buruk dari pada Syria. Mengingat dari letak lokasi geografis plus sentimen sekterian yang kerap menghampiri wilayah timur tengah posisi Iran bisa dikatakan amat terjepit. Sepertinya hal ini akan sangat mungkin terjadi karena bukan tidak mungkin usaha Ahmadinejad akan sia sia bila pada akhirnya AS melakukan serangan - di catat di sini : serangan bukan berarti pendudukan - dari negara tetangga Iran yang pastinya akan membuat iran mundur kembali berada di dalam fase pembangunan bukan pengembangan yang selama ini menjadi keunggulan Iran dibanding tetangganya. Terlebih pasca perang teluk 1991 kekuatan regional timur tengah hanya berada ditangan Israel, Iran dan Syiria. Bila sampai salah satu dari dua negara yang terakhir disebutkan menjadi korban serangan AS nampaknya kejatuhan negara berikutnya bisa jadi tinggal menunggu waktu.
Mendekatkan diri Dengan Kutub, Mencari Aman
Selain membangun ekonomi mandiri sebagai basis kekuatan, mendekatkan ke kutub kekuatan bumi menjadi hal yang wajib dilakukan oleh negara yang berada dalam ancaman Amerika Serikat. Seperti halnya yang dilakukan Korea Utara dengan Republik Rakyat China, Iran dan Suriah sendiri kini memilki hubungan yang semakin mesra dengan dua adidaya dari Timur baik RRC maupun Russia. Keadaan yang demikian tentu saja setidaknya akan membuat Amerika Serikat berpikir dua kali sebelum melakukan invasi. Hal senada pernah dilakukan oleh Mesir tatkala pada akhir perang Yom Kipur dimana Soviet mengancam akan menghabisi pasukan Israel bila mereka menerobos perbatasan Mesir. Akan halnya keuntungan lebih memungkinkan bagi Syria karena negara tersebut merupakan negara Republik yang berorientasi Sekuler, status tersebut akan sangat membantu dalam menjalin hubungan multilareal antara Syria, Russia dan RRC dengan tujuan memperkuat payung politik dan militer. Sebagai akhir catatan Syria merupakan salah satu negara yang mendukung oprasi dessert storm 1991 pimpinan AS dalam rangka pembebasan Kuwait dari pendudukan Iraq
Jawaban Terkini